Senja, Data, dan Logika
“Berapa?” tanya Logika.
Sebuah angka jatuh dari bibir Senja seperti butir hujan pertama di bulan Juni.
“Lima koma dua belas”, ucapnya nyaris tanpa emosi.
Seketika seperti ledakan bom tanpa suara. Data terdiam, Logika tertegun. Keheningan merayap masuk, begitu pekat hingga detak jarum jam terdengar begitu kencang. Tatapan mereka saling bersilang. Di kepala mereka, ribuan kemungkinan saling berdesakan.
”Mengapa segitu?” suara Logika pecah, setengah marah, setengah bingung.
Bagian 1 – Senja
Senja kembali ke masa lalu.
Bukan untuk mencari Jo. Ia tak bermaksud berbaring di sebelahnya, menunggu jarum jam menunjuk pukul delapan lewat lima puluh, hingga Jo terbangun, lalu berkata, ”Hai, aku Senja, istri kamu dari masa depan.” Tujuannya lain. Ia melangkah jauh – lima belas tahun mundur ke belakang.
2010.
Seragam abu membalut tubuhnya. Di atas trotoar Jalan Doktor Sutomo, langkahnya cepat setengah berlari, secepat degup jantung orang-orang yang berpacu melawan waktu. Barisan orang berseragam sama mengular menuju sebuah mesin sidik jari berlampu hijau di gedung bernomor lima. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 07.27 – tiga menit lagi sebelum namanya tercatat terlambat.
Dulu, ia tak peduli. Tapi kali ini berbeda. Kesempatan ini terlalu berharga untuk disia-siakan.
“Terima kasih,” suara datar perempuan dari mesin sidik jari menyambutnya. Waktu menunjukkan pukul 07.29. “Yey!” seru Senja, menahan senyum puas.
Setiba di ruangan, belum sempat ia menaruh tas, suara berat Pak Wage memecah pagi. “Tumben datang pagi, Nja. Ada angin apa nih?” Lelaki paruh baya itu menyeruput air putih hangat dari gelas tuanya – ritual yang tak pernah ia lewatkan setiap pagi.
“Eh, Bapak. Ya… kepagian aja. Sekalian nemenin Bapak ngobrol,” jawab Senja pura-pura santai.
Pak Wage menyunggingkan senyum miring. Ia tahu, gadis ini pasti punya maksud. Ada bunyi berdering tak lama. Dari saku celana, Pak Wage mengeluarkan sumber suara itu. Samsung flip. Senja menatapnya lama—benda yang di masanya sudah tak digunakan lagi. Lalu ia terpikir untuk merogoh saku sendiri. Blackberry kesayangannya menunggu, dengan sinyal 2G dan beberapa pesan BBM belum terbaca.
“Ya sudah, ngobrol di ruangan saya saja,” ajak Pak Wage.
Di meja kerja Pak Wage, sebuah buku tebal berwarna biru tergeletak: System of National Accounts 2008. Senja sedikit banyak tahu isinya. Pagi ini, itulah yang ingin ia singgung.
“Pak, kenapa PDB kita pakai metode tahun dasar? Kenapa nggak seperti Australia yang sudah pakai Chain Volume Measure?”
Pak Wage meletakkan gelasnya, menatap Senja lekat-lekat.
“Kita baru mulai, Nja. Pelan-pelan. Supply and Use Table kita baru jadi, kerangka ekonomi makro kita baru seimbang. Ini udah bisa jadi pijakan yang kuat untuk melangkah ke depan, loh.”
“Tapi Pak—”
“Iya, Bapak tahu maksudmu. Kelak mungkin kita akan beranjak ke sana. Tapi tidak sekarang. Tahun dasar ini pun nggak ajeg, harus kita cermati paling enggak sepuluh tahun sekali.”
“Gak ajeg gimana, Pak?”
“Kalau ekonomi nggak banyak berubah, ya aman. Tapi kalau berubah, tahun dasar harus disesuaikan. Penting sekali, ini menyangkut pertumbuhan ekonomi!”
Pak Wage berganti topik. “Oh iya, Bapak ada tugas supervisi harga ke Pasar Lama. Mau ikut, Nja?”
“Wah kebetulan sekali. Boleh, Pak.”
Pasar itu riuh oleh suara tawar-menawar dan aroma khas yang menusuk hidung. Uang tunai berpindah dari tangan ke tangan. Tak ada kode batang dua dimensi. Tak banyak ia lihat mesin gesek di kios-kios pedagang. Tak ada orang yang tersenyum ke kamera ponsel sambil menjajakan barang dagangannya. Tak ada jaket hijau atau oranye ojek online yang lalu lalang.
“Nduk, kok bengong?”suara penjual telur ayam membuyarkan lamunannya.
“Eh, maaf, Bu. Sekilo telur berapa sekarang?”
“Lima belas ribu, Nduk. Tapi kalau Lebaran bulan depan, bisa naik.”
Pak Wage menyela, “Nah, untungnya telur ya tetap telur. Paham kan, Nja?”
“Maksudnya, Pak?”
“Itu esensi tahun dasar, yang kamu tanya tadi. Harga barang kita bekukan di tahun ini, lalu kita pakai terus sampai tahun dasar berganti. Jadi pertumbuhan ekonomi diukur dari jumlah barang yang bertambah, bukan dari harga yang naik.”
“Ooh…” Senja setengah mengangguk.
“Lalu kalau ada barang baru sebelum tahun dasar ganti? Misalnya di 2025 sudah ramai ojek online, sementara sekarang cuma ojek pangkalan?” tanpa sadar ia bertanya kebablasan.
Darah mulai mengalir dari hidung Senja.
Bagian 2 - Data
Data adalah orang yang jujur.
Kejujurannya kadang menyenangkan, kadang menyakitkan, tapi selalu apa adanya.
Orang-orang bilang, ia memiliki beberapa ibu.
Ibu pertama bernama Survei. Dari beliau, Data belajar bahwa kebenaran harus dicari, bukan ditunggu. Survei selalu mengetuk pintu demi pintu rumah, membawa senyum dan beberapa lembar daftar pertanyaan. Ia berbincang dengan siapa pun yang membuka – kalau beruntung, bertemu orang yang ramah. Kalau tidak, pintu sudah ditutup sebelum ia sempat mengucapkan salam.
Di setiap percakapan, Survei mencatat segalanya: keyakinan, optimisme, pesimisme, hingga data-data pribadi – apa pun yang dikata, ia tulis tanpa mengubah sepatah kata pun.
“Bu, kalau orang-orang yang Ibu temui menolak gimana?” tanya Data.
“Ya Ibu nggak bisa maksa, Nak. Mereka berhak menolak. Dan, ini ngaruh ke apa yang Ibu kumpulkan.”
“Biasanya yang nolak itu gimana, Bu?”
“Banyak dari mereka yang sibuk dan jarang di rumah. Paling Ibu cuma bisa ngobrol sama asisten rumah tangganya. Kalau dibukakan pintu, ya.”
“Kalau perusahaan gimana, Bu?”
Kuesioner menghela napas. ”Penjaga keamanan sering jadi tembok tinggi. Padahal Ibu cuma ingin mendengar cerita—tentang kemajuan perusahaan, kecil atau besar. Sebagian memilih bungkam. Jadilah Ibu pulang dengan tangan hampa.”
Ibu kedua bernama Registrasi. Ia tak mengetuk pintu, ia menunggu. Hidupnya bergantung pada peraturan: wajib lapor atau tidak. Keistimewaannya, Registrasi bisa tahu informasi kapan saja, bahkan seketika. Tapi di negeri ini, ia sering berhadapan dengan under-reporting – tak semua mau melapor, dan laporan yang masuk pun sering tak seragam.
“Ini yang bikin capek Ibu, Nak,” keluhnya.
“Tapi kenapa Ibu nggak minta bantuan?”
“Masalahnya banyak. Harus dibenahi satu-satu: efisiensi birokrasi, interoperabilitas, standarisasi format, koordinasi, dan regulasi. Nggak bisa sekaligus.”
Registrasi tersenyum, mencoba membuat percakapan di antara mereka menjadi lebih sederhana.
“Anggap aja Ibu komputer di minimarket. Setiap transaksi Ibu catat: berapa barang keluar, berapa masuk. Rapi. Tapi kalau ada pembeli yang nggak minta struk, atau kasirnya salah input, datanya bisa keliru, kan?.”
Ibu yang terakhir adalah si kekinian: Bu Gembrot. Tubuhnya besar, penuh muatan informasi. Ia dikenal dengan lima ciri khas: volume yang masif, velocity atau kecepatan data real-time, variety atau keberagaman bentuk, veracity atau variasi kualitas, dan value – nilai yang bisa diolah.
“Ibu, kenapa baru muncul sekarang?” tanya Data lima tahun lalu.
“Ibu lahir karena teknologi, Nak. Informasi sekarang nggak cuma angka—ada gambar, video, suara. Makanya Ibu kadang pusing.”
“Trus, cara Ibu ngumpulin informasi?”
“Ya, mirip Registrasi. Diam. Tapi tanpa regulasi pun Ibu bisa dapat data yang detail. Misalnya riwayat belanja online, GPS jutaan kendaraan tiap detik, aktivitas media sosial seluruh dunia.”
“Terus aku bisa belajar apa dari itu semua?”
“Ibarat samudra luas, ombaknya kencang. Di bawahnya ada harta karun. Tapi untuk mengambilnya, kamu perlu kapal dan alat khusus.”
Malam itu, Data duduk sendirian di teras rumah. Angin membawa aroma tanah basah. Ia memikirkan semua ibunya, semua caranya mengumpulkan kebenaran. Di benaknya, data bukan sekadar angka – ia adalah denyut kehidupan yang direkam dari banyak arah.
Lalu pikirannya melayang ke satu nama sahabatnya: Senja.
Senja berbeda. Senja tidak sekadar mencatat. Ia memilih potongan-potongan waktu yang paling penting, lalu merangkainya menjadi cerita. Jika Data adalah kebenaran, Senja mengungkapnya menjadi lebih hidup dan bermakna.
Bagian 3 - Logika
Logika adalah orang yang sangat peka. Sorot matanya bisa memotret apa yang terjadi, telinganya mampu menangkap riuh percakapan di pasar maupun sunyi yang mencurigakan di ruang rapat. Sesuai namanya, ia memiliki kemampuan berpikir yang luar biasa.
Ia lahir dari keluarga kecil – ayahnya guru matematika, ibunya pustakawan. Di rumah, rak buku penuh sesak: tebal berisi angka, tipis berisi cerita. Sejak kecil, Logika menyusun mainan menurut ukuran dan warna, lalu menghitungnya. Pernah ibunya bertanya, “Kenapa disusun begitu?” Ia menjawab singkat, “Biar bisa dihitung dengan benar, Bu.” Dari kebiasaan ini lahirlah pikirannya yang rapi, sistematis, dan selalu menanyakan kenapa sebelum menerima jawaban. Sekolah memberinya bahasa formal: teorema, bukti, dan hipotesis.
Namun, di kantor pertamanya, Logika menyusun laporan kebijakan dengan perhitungan sempurna, mengalokasikan subsidi berdasarkan rata-rata. Beberapa bulan kemudian, desa-desa pinggir kota memprotes. Rata-rata itu menutupi kelompok kecil yang paling miskin. Ia menatap laporan yang dibanggakannya. “Secara matematis benar,” gumamnya, “tapi bisa salah untuk manusia.”
“Jangan harap ini bersih,” Data menyerahkan tumpukan angket ke Logika.
Logika membuka lembaran. Ada kolom kosong, angka loncat, dan catatan samar di tepi kertas. Malam itu, ia menatap tabel lama-lama. “Kenapa bisa begini?,” tanyanya kembali.
”Aku hanya berusaha untuk jujur”, jawab Data yang belum beranjak sejak menyerahkan angket.
Kalimat itu menempel di kepala Logika. Ia belajar bahwa kejujuran berlapis – ketidakhadiran data bisa mengisyaratkan ketidaksetaraan akses. Ketidaksempurnaan bukan cacat, tapi petunjuk arah. Sejak itu, Logika selalu punya catatan kaki: sumber data, kelemahan, asumsi, dan potensi bias.
Suatu sore, Logika menatap deretan angka di laptop. Senja duduk di sebelahnya, menulis sesuatu. Tanpa menoleh, Senja berkata, “Angka ini tidak menangis.”
“Apa maksudmu?” tanya Logika.
“Mereka ingin diceritakan.”
Logika menghela napas. “Tugas angka itu patuh, bukan merengek.”
Senja tersenyum tipis. “Kalau mereka patuh, tapi membuat orang yang harusnya tertolong malah terlewat, itu tetap benar?”
Sejak sore itu, percakapan mereka pendek tapi tajam. Senja mengajari Logika bertanya: siapa yang akan membaca laporan ini? Siapa yang dirugikan kalau kita menghasilkan angka tertentu? Sebaliknya, Logika mengajari Senja: bagaimana mengecek apakah cerita tunggal bisa mewakili banyak orang, kapan anekdot menipu, bagaimana mengukur ketidakpastian tanpa mematikan empati.
Bagian 4 - Dan, Mereka Bertiga
Angka lima koma dua belas persen itu seperti percikan api.
“Tidak mungkin segitu,” kata Logika, suaranya datar tapi matanya menyala.
Senja menatap layar, jemarinya mengetuk angka itu seolah mencoba untuk meyakinkannya.
“Apa yang sedang terjadi menunjukkan cerita yang berbeda, Nja,” sambung Logika cepat.
“Ini anomali. Sebagian mendukung, sebagian tidak,” balas Data.
Senja hanya duduk, matanya menatap ke kejauhan.
“Kamu diam saja?” tanya Logika.
“Aku sedang mendengarkan kalian.”
“Lalu?” desak Data.
Logika menarik napas.
“Lima koma dua belas itu mungkin benar, tapi terlalu indah untuk mewakili kenyataan.”
”Kalau begitu, kita buktikan siapa yang benar!”
Senja belum menemukan jawaban, hanya ada jeda-jeda panjang di antara pikirannya. Ia hanya bisa berucap, “Aku pikir kalian berdua terlalu sibuk membuktikan diri, sampai lupa mendengarkan.”
Hening panjang.
Data menunduk. Logika menoleh ke jendela. Tak ada yang bicara lagi.
Keesokan harinya, Senja tak lagi muncul di ruang kerja mereka. Meja kerjanya kosong, kursinya dingin. Hanya buku catatan kecil yang tertinggal, dengan satu kalimat di halaman terakhir: Kadang angka hanya butuh langit untuk bercerita.
Hari berganti minggu, sampai sore itu, di tepi pantai, Logika dan Data duduk memandangi garis cakrawala. Ombak datang dan pergi, seperti argumen mereka yang tak pernah selesai.
Matahari sebentar lagi tenggelam, tersisa sedikit sinarnya yang menguning bercahaya di atas laut.
“Ka, kamu tahu gak kenapa Senja itu menyenangkan?” tanya Data.
Logika terdiam.
“Kadang ia merah merekah bahagia, kadang ia hitam kelam berduka.”
“Tapi langit selalu menerima senja apa adanya.”
Dari kejauhan, siluet hitam muncul setelah matahari menghilang dari garis pantai. Rambutnya berantakan tertiup angin, langkahnya ringan tapi mantap.
“Itu Senja,” teriak mereka berdua.
Senja tersenyum tipis, sorot matanya menyimpan jawaban. Ombak memukul pasir berulang-ulang, seperti siaran berita sore yang terus mengulang angka lima koma dua belas persen di layar kaca. Data menatap langit, Logika menatap laut. Senja memandang keduanya, seolah berkata tanpa suara: Kalian masih berpikir siapa yang benar? Sementara dunia di luar sana sedang menunggu apa yang berguna.
Di kejauhan, langit berubah warna. Mungkin merah, mungkin kelabu. Tergantung siapa yang melihat – dan siapa yang memilih percaya.
___
Catatan: Cerita ini terinspirasi dari film Sore serta perdebatan panjang mengenai pertumbuhan ekonomi triwulan II/2025 5,12%. Kisah yang tertuang di sini sepenuhnya merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mewakili pendapat atau sikap resmi institusi mana pun. Proses penulisan dibantu oleh Artificial Intelligence (ChatGPT) dalam merapikan alur dan menyempurnakan redaksi.















