Senja, Data, dan Logika

Senja, Data, dan Logika

“Berapa?” tanya Logika.

Sebuah angka jatuh dari bibir Senja seperti butir hujan pertama di bulan Juni.

“Lima koma dua belas”, ucapnya nyaris tanpa emosi.

Seketika seperti ledakan bom tanpa suara. Data terdiam, Logika tertegun. Keheningan merayap masuk, begitu pekat hingga detak jarum jam terdengar begitu kencang. Tatapan mereka saling bersilang. Di kepala mereka, ribuan kemungkinan saling berdesakan.

”Mengapa segitu?” suara Logika pecah, setengah marah, setengah bingung.

Bagian 1 – Senja

Senja kembali ke masa lalu.

Bukan untuk mencari Jo. Ia tak bermaksud berbaring di sebelahnya, menunggu jarum jam menunjuk pukul delapan lewat lima puluh, hingga Jo terbangun, lalu berkata, ”Hai, aku Senja, istri kamu dari masa depan.” Tujuannya lain. Ia melangkah jauh – lima belas tahun mundur ke belakang.

2010.

Seragam abu membalut tubuhnya. Di atas trotoar Jalan Doktor Sutomo, langkahnya cepat setengah berlari, secepat degup jantung orang-orang yang berpacu melawan waktu. Barisan orang berseragam sama mengular menuju sebuah mesin sidik jari berlampu hijau di gedung bernomor lima. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 07.27 – tiga menit lagi sebelum namanya tercatat terlambat.

Dulu, ia tak peduli. Tapi kali ini berbeda. Kesempatan ini terlalu berharga untuk disia-siakan.

“Terima kasih,” suara datar perempuan dari mesin sidik jari menyambutnya. Waktu menunjukkan pukul 07.29. “Yey!” seru Senja, menahan senyum puas.

Setiba di ruangan, belum sempat ia menaruh tas, suara berat Pak Wage memecah pagi. “Tumben datang pagi, Nja. Ada angin apa nih?” Lelaki paruh baya itu menyeruput air putih hangat dari gelas tuanya – ritual yang tak pernah ia lewatkan setiap pagi.

“Eh, Bapak. Ya… kepagian aja. Sekalian nemenin Bapak ngobrol,” jawab Senja pura-pura santai.

Pak Wage menyunggingkan senyum miring. Ia tahu, gadis ini pasti punya maksud. Ada bunyi berdering tak lama. Dari saku celana, Pak Wage mengeluarkan sumber suara itu. Samsung flip. Senja menatapnya lama—benda yang di masanya sudah tak digunakan lagi. Lalu ia terpikir untuk merogoh saku sendiri. Blackberry kesayangannya menunggu, dengan sinyal 2G dan beberapa pesan BBM belum terbaca.

“Ya sudah, ngobrol di ruangan saya saja,” ajak Pak Wage.

Di meja kerja Pak Wage, sebuah buku tebal berwarna biru tergeletak: System of National Accounts 2008. Senja sedikit banyak tahu isinya. Pagi ini, itulah yang ingin ia singgung.

“Pak, kenapa PDB kita pakai metode tahun dasar? Kenapa nggak seperti Australia yang sudah pakai Chain Volume Measure?”

Pak Wage meletakkan gelasnya, menatap Senja lekat-lekat.

“Kita baru mulai, Nja. Pelan-pelan. Supply and Use Table kita baru jadi, kerangka ekonomi makro kita baru seimbang. Ini udah bisa jadi pijakan yang kuat untuk melangkah ke depan, loh.”

“Tapi Pak—”

“Iya, Bapak tahu maksudmu. Kelak mungkin kita akan beranjak ke sana. Tapi tidak sekarang. Tahun dasar ini pun nggak ajeg, harus kita cermati paling enggak sepuluh tahun sekali.”

“Gak ajeg gimana, Pak?”

“Kalau ekonomi nggak banyak berubah, ya aman. Tapi kalau berubah, tahun dasar harus disesuaikan. Penting sekali, ini menyangkut pertumbuhan ekonomi!”

Pak Wage berganti topik. “Oh iya, Bapak ada tugas supervisi harga ke Pasar Lama. Mau ikut, Nja?”

“Wah kebetulan sekali. Boleh, Pak.”

Pasar itu riuh oleh suara tawar-menawar dan aroma khas yang menusuk hidung. Uang tunai berpindah dari tangan ke tangan. Tak ada kode batang dua dimensi. Tak banyak ia lihat mesin gesek di kios-kios pedagang. Tak ada orang yang tersenyum ke kamera ponsel sambil menjajakan barang dagangannya. Tak ada jaket hijau atau oranye ojek online yang lalu lalang.

“Nduk, kok bengong?”suara penjual telur ayam membuyarkan lamunannya.

“Eh, maaf, Bu. Sekilo telur berapa sekarang?”

“Lima belas ribu, Nduk. Tapi kalau Lebaran bulan depan, bisa naik.”

Pak Wage menyela, “Nah, untungnya telur ya tetap telur. Paham kan, Nja?”

“Maksudnya, Pak?”

“Itu esensi tahun dasar, yang kamu tanya tadi. Harga barang kita bekukan di tahun ini, lalu kita pakai terus sampai tahun dasar berganti. Jadi pertumbuhan ekonomi diukur dari jumlah barang yang bertambah, bukan dari harga yang naik.”

“Ooh…” Senja setengah mengangguk.

“Lalu kalau ada barang baru sebelum tahun dasar ganti? Misalnya di 2025 sudah ramai ojek online, sementara sekarang cuma ojek pangkalan?” tanpa sadar ia bertanya kebablasan.

Darah mulai mengalir dari hidung Senja.


Bagian 2 - Data

Data adalah orang yang jujur.

Kejujurannya kadang menyenangkan, kadang menyakitkan, tapi selalu apa adanya.

Orang-orang bilang, ia memiliki beberapa ibu.

Ibu pertama bernama Survei. Dari beliau, Data belajar bahwa kebenaran harus dicari, bukan ditunggu. Survei selalu mengetuk pintu demi pintu rumah, membawa senyum dan beberapa lembar daftar pertanyaan. Ia berbincang dengan siapa pun yang membuka – kalau beruntung, bertemu orang yang ramah. Kalau tidak, pintu sudah ditutup sebelum ia sempat mengucapkan salam.

Di setiap percakapan, Survei mencatat segalanya: keyakinan, optimisme, pesimisme, hingga data-data pribadi – apa pun yang dikata, ia tulis tanpa mengubah sepatah kata pun.

“Bu, kalau orang-orang yang Ibu temui menolak gimana?” tanya Data.

“Ya Ibu nggak bisa maksa, Nak. Mereka berhak menolak. Dan, ini ngaruh ke apa yang Ibu kumpulkan.”

“Biasanya yang nolak itu gimana, Bu?”

“Banyak dari mereka yang sibuk dan jarang di rumah. Paling Ibu cuma bisa ngobrol sama asisten rumah tangganya. Kalau dibukakan pintu, ya.”

“Kalau perusahaan gimana, Bu?”

Kuesioner menghela napas. ”Penjaga keamanan sering jadi tembok tinggi. Padahal Ibu cuma ingin mendengar cerita—tentang kemajuan perusahaan, kecil atau besar. Sebagian memilih bungkam. Jadilah Ibu pulang dengan tangan hampa.”


Ibu kedua bernama Registrasi. Ia tak mengetuk pintu, ia menunggu. Hidupnya bergantung pada peraturan: wajib lapor atau tidak. Keistimewaannya, Registrasi bisa tahu informasi kapan saja, bahkan seketika. Tapi di negeri ini, ia sering berhadapan dengan under-reporting – tak semua mau melapor, dan laporan yang masuk pun sering tak seragam.

“Ini yang bikin capek Ibu, Nak,” keluhnya.

“Tapi kenapa Ibu nggak minta bantuan?”

“Masalahnya banyak. Harus dibenahi satu-satu: efisiensi birokrasi, interoperabilitas, standarisasi format, koordinasi, dan regulasi. Nggak bisa sekaligus.”

Registrasi tersenyum, mencoba membuat percakapan di antara mereka menjadi lebih sederhana.

“Anggap aja Ibu komputer di minimarket. Setiap transaksi Ibu catat: berapa barang keluar, berapa masuk. Rapi. Tapi kalau ada pembeli yang nggak minta struk, atau kasirnya salah input, datanya bisa keliru, kan?.”

Ibu yang terakhir adalah si kekinian: Bu Gembrot. Tubuhnya besar, penuh muatan informasi. Ia dikenal dengan lima ciri khas: volume yang masif, velocity atau kecepatan data real-time, variety atau keberagaman bentuk, veracity atau variasi kualitas, dan value – nilai yang bisa diolah.

“Ibu, kenapa baru muncul sekarang?” tanya Data lima tahun lalu.

“Ibu lahir karena teknologi, Nak. Informasi sekarang nggak cuma angka—ada gambar, video, suara. Makanya Ibu kadang pusing.”

“Trus, cara Ibu ngumpulin informasi?”

“Ya, mirip Registrasi. Diam. Tapi tanpa regulasi pun Ibu bisa dapat data yang detail. Misalnya riwayat belanja online, GPS jutaan kendaraan tiap detik, aktivitas media sosial seluruh dunia.”

“Terus aku bisa belajar apa dari itu semua?”

“Ibarat samudra luas, ombaknya kencang. Di bawahnya ada harta karun. Tapi untuk mengambilnya, kamu perlu kapal dan alat khusus.”

Malam itu, Data duduk sendirian di teras rumah. Angin membawa aroma tanah basah. Ia memikirkan semua ibunya, semua caranya mengumpulkan kebenaran. Di benaknya, data bukan sekadar angka – ia adalah denyut kehidupan yang direkam dari banyak arah.

Lalu pikirannya melayang ke satu nama sahabatnya: Senja.

Senja berbeda. Senja tidak sekadar mencatat. Ia memilih potongan-potongan waktu yang paling penting, lalu merangkainya menjadi cerita. Jika Data adalah kebenaran, Senja mengungkapnya menjadi lebih hidup dan bermakna.

Bagian 3 - Logika

Logika adalah orang yang sangat peka. Sorot matanya bisa memotret apa yang terjadi, telinganya mampu menangkap riuh percakapan di pasar maupun sunyi yang mencurigakan di ruang rapat. Sesuai namanya, ia memiliki kemampuan berpikir yang luar biasa.

Ia lahir dari keluarga kecil – ayahnya guru matematika, ibunya pustakawan. Di rumah, rak buku penuh sesak: tebal berisi angka, tipis berisi cerita. Sejak kecil, Logika menyusun mainan menurut ukuran dan warna, lalu menghitungnya. Pernah ibunya bertanya, “Kenapa disusun begitu?” Ia menjawab singkat, “Biar bisa dihitung dengan benar, Bu.” Dari kebiasaan ini lahirlah pikirannya yang rapi, sistematis, dan selalu menanyakan kenapa sebelum menerima jawaban. Sekolah memberinya bahasa formal: teorema, bukti, dan hipotesis.

Namun, di kantor pertamanya, Logika menyusun laporan kebijakan dengan perhitungan sempurna, mengalokasikan subsidi berdasarkan rata-rata. Beberapa bulan kemudian, desa-desa pinggir kota memprotes. Rata-rata itu menutupi kelompok kecil yang paling miskin. Ia menatap laporan yang dibanggakannya. “Secara matematis benar,” gumamnya, “tapi bisa salah untuk manusia.”

“Jangan harap ini bersih,” Data menyerahkan tumpukan angket ke Logika.

Logika membuka lembaran. Ada kolom kosong, angka loncat, dan catatan samar di tepi kertas. Malam itu, ia menatap tabel lama-lama. “Kenapa bisa begini?,” tanyanya kembali.

”Aku hanya berusaha untuk jujur”, jawab Data yang belum beranjak sejak menyerahkan angket.

Kalimat itu menempel di kepala Logika. Ia belajar bahwa kejujuran berlapis – ketidakhadiran data bisa mengisyaratkan ketidaksetaraan akses. Ketidaksempurnaan bukan cacat, tapi petunjuk arah. Sejak itu, Logika selalu punya catatan kaki: sumber data, kelemahan, asumsi, dan potensi bias.

Suatu sore, Logika menatap deretan angka di laptop. Senja duduk di sebelahnya, menulis sesuatu. Tanpa menoleh, Senja berkata, “Angka ini tidak menangis.”

“Apa maksudmu?” tanya Logika.

“Mereka ingin diceritakan.”

Logika menghela napas. “Tugas angka itu patuh, bukan merengek.”

Senja tersenyum tipis. “Kalau mereka patuh, tapi membuat orang yang harusnya tertolong malah terlewat, itu tetap benar?”

Sejak sore itu, percakapan mereka pendek tapi tajam. Senja mengajari Logika bertanya: siapa yang akan membaca laporan ini? Siapa yang dirugikan kalau kita menghasilkan angka tertentu? Sebaliknya, Logika mengajari Senja: bagaimana mengecek apakah cerita tunggal bisa mewakili banyak orang, kapan anekdot menipu, bagaimana mengukur ketidakpastian tanpa mematikan empati.

Bagian 4 - Dan, Mereka Bertiga

Angka lima koma dua belas persen itu seperti percikan api.

“Tidak mungkin segitu,” kata Logika, suaranya datar tapi matanya menyala.

Senja menatap layar, jemarinya mengetuk angka itu seolah mencoba untuk meyakinkannya.

“Apa yang sedang terjadi menunjukkan cerita yang berbeda, Nja,” sambung Logika cepat.

“Ini anomali. Sebagian mendukung, sebagian tidak,” balas Data.

Senja hanya duduk, matanya menatap ke kejauhan.

“Kamu diam saja?” tanya Logika.

“Aku sedang mendengarkan kalian.”

“Lalu?” desak Data.


Logika menarik napas.

“Lima koma dua belas itu mungkin benar, tapi terlalu indah untuk mewakili kenyataan.”

”Kalau begitu, kita buktikan siapa yang benar!”

Senja belum menemukan jawaban, hanya ada jeda-jeda panjang di antara pikirannya. Ia hanya bisa berucap, “Aku pikir kalian berdua terlalu sibuk membuktikan diri, sampai lupa mendengarkan.”

Hening panjang.
Data menunduk. Logika menoleh ke jendela. Tak ada yang bicara lagi.

Keesokan harinya, Senja tak lagi muncul di ruang kerja mereka. Meja kerjanya kosong, kursinya dingin. Hanya buku catatan kecil yang tertinggal, dengan satu kalimat di halaman terakhir: Kadang angka hanya butuh langit untuk bercerita.

Hari berganti minggu, sampai sore itu, di tepi pantai, Logika dan Data duduk memandangi garis cakrawala. Ombak datang dan pergi, seperti argumen mereka yang tak pernah selesai.

Matahari sebentar lagi tenggelam, tersisa sedikit sinarnya yang menguning bercahaya di atas laut.
“Ka, kamu tahu gak kenapa Senja itu menyenangkan?” tanya Data.

Logika terdiam.
“Kadang ia merah merekah bahagia, kadang ia hitam kelam berduka.”
“Tapi langit selalu menerima senja apa adanya.”

Dari kejauhan, siluet hitam muncul setelah matahari menghilang dari garis pantai. Rambutnya berantakan tertiup angin, langkahnya ringan tapi mantap.

“Itu Senja,” teriak mereka berdua.

Senja tersenyum tipis, sorot matanya menyimpan jawaban. Ombak memukul pasir berulang-ulang, seperti siaran berita sore yang terus mengulang angka lima koma dua belas persen di layar kaca. Data menatap langit, Logika menatap laut. Senja memandang keduanya, seolah berkata tanpa suara: Kalian masih berpikir siapa yang benar? Sementara dunia di luar sana sedang menunggu apa yang berguna.

Di kejauhan, langit berubah warna. Mungkin merah, mungkin kelabu. Tergantung siapa yang melihat – dan siapa yang memilih percaya.


___

Catatan: Cerita ini terinspirasi dari film Sore serta perdebatan panjang mengenai pertumbuhan ekonomi triwulan II/2025 5,12%. Kisah yang tertuang di sini sepenuhnya merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mewakili pendapat atau sikap resmi institusi mana pun. Proses penulisan dibantu oleh Artificial Intelligence (ChatGPT) dalam merapikan alur dan menyempurnakan redaksi.

CERPEN: JANTUR



Tidak banyak yang bisa dilakukan Nona Jantur, mesin perekam sidik jari di parkiran motor lantai dua, kecuali membiarkan orang-orang menekan tombolnya, dan menempelkan jari-jari mereka kepadanya. Jam sibuk Nona Jantur adalah pagi hari pukul enam hingga delapan, juga sore hari sekitar pukul empat. Pukul-pukul yang lain adalah jeda istirahatnya, meski seringkali ia terusik oleh jari-jari yang terlambat, termasuk jari-jari yang pulang lebih cepat. Nona Jantur bekerja seperti mesin, sebagaimana ia memang diproduksi demikian, tidak pernah berhenti melayani, kecuali saat listrik kantor padam dan genset tidak dinyalakan. Tapi pagi itu telah merenggut pribadi Nona Jantur sebagai piranti mesin. Nona Jantur merasakan sesuatu yang selama ini belum pernah dirasakan. Matanya berkaca-kaca, senyum ringkihnya menyungging, denyut mesinnya membuncah. Semua itu terjadi ketika jari telunjuk seorang pemuda menempeli tubuhnya. Hari-hari Nona Jantur setelahnya, seketika berubah.

Nona Jantur sudah pasti tidak (akan) bisa mengenali pemuda itu, kecuali lima dijit angka yang pemuda itu tekan: lima enam delapan empat satu. Nona Jantur juga mulai belajar merasakan raut jari pemuda itu yang ranum di pagi hari, dan sedikit memucat pada sore hari. Telunjuk pemuda itu menekan tombol demi tombolnya dengan halus, lihai, bahkan tidak pernah meleset sedikitpun. Pemuda itupun mendapat balasan yang setimpal dari Nona Jantur: “Terima Kasih”. Nona Jantur memang dilatih untuk mengucapkan “Terima Kasih” bagi siapapun yang berhasil menekan tombol yang benar, pun memposisikan sidik jari dengan benar. Satu kalimat lagi yang ia bisa adalah “Silahkan Coba Lagi”, bagi siapapun yang salah. Tapi pemuda itu tidak pernah salah. Nona Jantur selalu membalasnya dengan ucapan “Terima Kasih” dengan nada yang ia upayakan agar terdengar menggoda. Sayang pemuda itu tidak mendengar godaan macam apapun. Apalagi merasakannya.

Kedatangan dan kepulangan pemuda itu bahkan sudah dihapal betul-betul oleh Nona Jantur. Pemuda itu tidak pernah datang lebih dari pukul tujuh, lebih cepat setengah jam dari kebanyakan orang-orang. Juga pulang pukul setengah lima, lebih lambat setengah jam dari kebanyakan orang-orang. Dalam beberapa waktu, pemuda itu juga pulang sekitar pukul tujuh malam, bersamaan dengan beberapa orang lainnya. Nona Jantur sempat berpikir mengapa pemuda itu datang lebih awal dan pulang jauh lebih lambat dari yang lainnya. Tetapi itu tidak penting buat Nona Jantur. Selama pemuda itu menyentuhnya tiap hari, itu sudah cukup mengalirkan keindahan ke dalam tubuhnya. Keindahan yang terus merasuk, menjadikan ‘rasa’ itu perlahan bertumbuh. Ingin rasanya Nona Jantur menyampaikan ‘rasa’ itu pada pemuda itu. Mengubah kalimat “Terima Kasih” yang menggoda menjadi “Hei pemuda, Aku… Sayang… Kamu…”. Tapi itu tidak mungkin. Selain ia memang tidak diprogram untuk mengucapkan kalimat selain “Terima Kasih” dan “Silahkan Coba Lagi”, dan meski Nona Jantur berhasil sekalipun mem-program dirinya sendiri, kalimat “Aku… Sayang… Kamu” tidak akan pernah bisa diterima oleh siapapun.

Nona Jantur juga belajar menerima bahwa dua hari di akhir pekan menjadi malapetaka rindu baginya. Dan hari Senin, di mana sebagian orang-orang membencinya, justru menjadi hari yang paling Nona Jantur tunggu. Pemuda itu datang sebagaimana biasanya, mengobati rindu tak tertahankan Nona Jantur. Meski pernah beberapa Senin, pemuda itu tidak datang sama sekali. Bahkan pernah sampai lima hari. Menambah panjang rindu Nona Jantur, dan setiap ada yang menekan tombol, matanya tajam memerhatikan, berharap yang datang adalah pemuda itu. Pagi itu, Nona Jantur lelah sekali menunggu pemuda itu tak kunjung datang dalam seminggu lamanya. Jari telunjuk seorang pemuda menekan tombolnya halus, lelahnya perlahan menghilang. Tombol yang tertekan adalah lima enam delapan enam nol. “Ah, sial! Bukan pemuda itu”, gumam Nona Jantur. Nona Jantur tentu tidak menyampaikan balasan itu. Meski seorang pemuda itu menekan tombol dan menempelkan jari telunjuknya dengan benar, Nona Jantur hanya bisa membalasnya dengan “Silahkan Coba Lagi!”. Sampai tiga kali. Membuat seorang pemuda itu balik sebal.

Pemuda itu akhirnya datang. Nona Jantur terlampau lelah. Menunggu. Menahan rindu. Selama empat minggu. Dan selama itu pula Nona Jantur memikirkan pemuda itu. Nona Jantur juga mencoba mencari-cari jawaban, dari orang-orang yang juga lama tidak menekan dan menyentuhnya. “Apakah mungkin pemuda itu sakit? Selama itu?”. Tetapi Nona Jantur menjawab sendiri pertanyaannya, “Ah tidak mungkin! Ia terlihat begitu sehat meski sore hari telunjuknya sedikit memucat”. “Atau mungkin, pemuda itu sudah menjual sepeda motornya?”. “Atau mungkin, pemuda itu dipindahkan ke daerah?”. “Atau, pemuda itu telah resign dari kantor ini? Kenapa pemuda itu tidak pamitan kepadaku?”. Pertanyaan demi pertanyaan itu mengganggu hari-hari Nona Jantur. Orang-orang yang semula sering berhasil, menjadi lebih sering gagal. Waktu yang semula tepat sesuai zona waktu, bergeser maju juga mundur sekitar lima menit. Ketika waktu Nona Jantur mundur, banyak yang menggerayanginya. Sebaliknya ketika maju, orang-orang mengabaikannya. Tetapi itu tidak lebih jahat dari telunjuk pemuda itu, yang telah mengabaikannya barang empat minggu.

“Jangan-jangan, pemuda itu sedang bepergian semacam pulang kampung atau perjalanan dinas ke luar kota?”. Lagi-lagi Nona Jantur menjawab sendiri, “Ah rasanya belum lagi ada orang-orang yang bepergian selama itu. Kecuali …” Belum tuntas Nona Jantur me-lepeh-kan jawaban, pagi setelah empat minggu lamanya, tombol lima-enam-delapan-empat-satu ditekan. Samar-samar Nona Jantur melihat ada yang berbeda di dua jari di samping jari telunjuk pemuda itu. Sesuatu yang terselip melingkar, cerah keemasan. Namun kebahagiaannya yang baru saja bangun dari tidur panjang, mengaburkan pandangan Nona Jantur. Ia mengucapkan “Terima Kasih” yang dari lubuk piranti yang teramat dalam. Tapi setelahnya, Nona Jantur memikirkan apa yang terselip melingkar cerah keemasan, di dua jari di samping jari telunjuk pemuda itu. Sore jam empat, tidak seperti sebelum sebelumnya, pemuda itu absensi pulang. Nona Jantur menyoroti tajam dua jari di samping jari telunjuk pemuda itu. Ia mengerti.

Nona Jantur membalas sentuhan pemuda itu, tidak seperti sebelum sebelumnya.
“Silahkan Coba Lagi!” Dengan nada ketus. Hingga tiga kali.

JURANG EKONOMI YANG KIAN MENGANGA - PART 2



Sambil mendengarkan lagu Busur Hujan dari Navicula, jemari saya berlalu-lalang di tombol-tombol huruf, lalu berkeinginan untuk menyambung tulisan tentang ketimpangan. Sebelumnya, tulisan “Jurang Ekonomi yang Kian Menganga, Part 1” telah menyodorkan sebuah prolog mengapa ketimpangan menjadi sebuah masalah, utamanya bagi saya dan kebanyakan orang. Juga, sejauh mana ketimpangan itu telah terjadi di negeri ini. Mengambil judul “Potret yang Timpang”, tulisan itu tidak hanya mengupas ukuran kuantitatif seperti rasio Gini, pertumbuhan ekonomi, dan konsumsi antar kelas penduduk – namun lebih dari itu, dimaksudkan untuk membuka pikiran bahwa masalah itu ada dan nyata, untuk dipikirkan bersama-sama. Kali ini, berbekal publikasi “AKU Indonesia: Akhiri Ketimpangan Untuk Indonesia” dari World Bank, saya mencoba menuliskan ulang, yang mudah-mudahan menyentuh akar permasalahan ketimpangan: mengapa ketimpangan bisa terjadi? Atau, mengapa bisa meningkat (lebih parah lagi)?

Saya mencoba memulai dengan sebuah contoh nyata yang saya rasakan sendiri. Saya lahir dari keluarga petani desa, seperti sebagian besar penduduk Indonesia pada umumnya. (Almarhum) kakek saya adalah seorang petani, itupun dari sawah warisan yang telah dibagi dua dengan kakaknya. Saat itu, perekonomian masih begitu tradisionil dan agraris, sehingga konsumsi sudah bisa terpenuhi dari bekerja sebagai petani. Termasuk pula biaya sekolah. Bapak saya berhasil disekolahkan hingga menamatkan sekolah keguruan, dan kini menjadi seorang guru. Ketika kebutuhan mulai semakin kompleks, saya disekolahkan hingga menamatkan perguruan tinggi, hingga kini menjadi seorang penulis blog ini. Namun ketika bicara soal kasta ekonomi rumah tangga, keluarga kami boleh-lah dimasukkan ke dalam kelas menengah. Dalam bahasa yang lebih sederhana: berkecukupan.

Kondisi yang berbeda terjadi pada beberapa orang di desa saya. Beberapa orang diwarisi tanah yang cukup luas, termanfaatkan dengan baik, untuk pendidikan yang lebih baik, hingga saat ini bisa dikatakan menjadi keluarga yang mapan secara ekonomi. Atau, ada yang tidak dibekali warisan sepeser pun, tapi mendapati pekerjaan di sektor pariwisata, kerja keras disana, memperoleh penghasilan di atas rata-rata, mampu membeli aset, dan juga menjadi keluarga yang mapan secara ekonomi. Dua kasus ini bisa dikategorikan sebagai mereka yang ada di kelas atas. Sebaliknya, ada juga yang ‘belog ajum’ menjual tanah warisan untuk hura-hura hingga kini merasa serba kekurangan. Atau ada yang memang tidak dibekali warisan apa-apa, minim kerja keras, dan tanpa mengeyam bangku pendidikan, hingga kini juga bernasib serupa. Mereka dikelaskan sebagai: kelas bawah.

Semua perbedaan di atas adalah menyoal ketimpangan, yang perjalanannya ber-regenerasi, disertai sekelumit clue permasalahannya. Semua punya input, proses yang dilalui, dan outputnya masing-masing. Sehingga, kunci untuk memahami ketimpangan yang meningkat adalah mengapa ada orang-orang yang memperoleh penghasilan lebih besar karena pekerjaannya lebih baik atau memang memiliki aset yang lebih banyak (bahkan) sejak dilahirkan. Selanjutnya, bagaimana prosesnya, yaitu penghasilan itu dikelola: berapa yang dibelanjakan, dan berapa yang ditabung untuk masa depan. Yang terakhir adalah alasan lain di luar dua hal tadi, faktor bencana (alam, sosial, ekonomi) yang mengikis aset dan penghasilan suatu rumah tangga, terutama kepada yang rentan yaitu kasta menengah ke bawah. Terhadap semua alasan ini, ada satu pertanyaan yang paling penting: mengapa si kaya mampu bertahan atas guncangan tadi?

Ada empat alasan utama, mengapa ketimpangan itu terjadi (juga) di Indonesia. Yang pertama, dan paling mendasar adalah ketimpangan peluang, menyoal kondisi sejak lahir. Yang kedua adalah ketimpangan pendapatan ketika seseorang memutuskan untuk bekerja pada orang atau berusaha – memperkerjakan orang. Yang ketiga adalah ketimpangan aset, yaitu semakin terpusatnya sumber daya keuangan pada segelintir rumah tangga kaya. Dan yang terakhir (keempat) adalah faktor lain, yaitu guncangan yang kemudian mengikis kemampuan ekonomi rumah tangga.

Ketimpangan peluang.
Katanya, awal kehidupan yang tidak setara berarti kehidupan yang tidak setara di masa depan. Sepertiga dari ketimpangan yang terjadi di negeri ini disebabkan oleh faktor di luar kendali individu, terutama faktor tempat dimana dilahirkan dan pendidikan orang tua. Bahkan, ketimpangan bisa dimulai sebelum dilahirkan! Sebagian anak-anak dari rumah tangga miskin umumnya tidak mendapatkan nutrisi yang memadai sejak masih dalam kandungan, hingga berumur dua tahun. Hasilnya: mereka mengalami stunting (gagal mencapai tinggi badan yang sesuai usia mereka) dan kemampuan kognitif yang lebih lambat. Lalu? Dibandingkan mereka yang lahir dan tumbuh sehat, tingkat pendidikannya akan lebih rendah, pekerjaan yang kurang layak, dan penghasilan yang rendah saat dewasa nantinya. Faktanya, 37 persen anak-anak Indonesia mengalami stunting (sumber: WHO Child Nutrition Indicators) – dan tentunya kita tidak ingin mereka mengalami siklus seperti pada kalimat sebelumnya.
Ketimpangan peluang menjadi semakin parah, ketika tidak semua anak mendapatkan awal yang baik di sekolah. Meskipun diklaim angka partisipasi sekolah anak miskin telah meningkat, mereka seringkali tidak mendapatkan kualitas pendidikan yang sama. Kecil kemungkinan bagi anak-anak di perdesaan (juga luar Jawa) dapat mengikuti program pendidikan anak usia dini (PAUD), termasuk Taman Kanak-kanak (TK). Pada tingkatan yang lebih tinggi, saat anak-anak kaya mampu naik kelas dan jenjang dengan santainya, anak-anak miskin justru lebih besar terancam tidak naik kelas atau jenjang pendidikan berikutnya. Dari berbagai pemberitaan, kita juga mengetahui bahwa sekolah-sekolah di perdesaan Indonesia timur lebih kecil kemungkinannya memiliki guru yang terlatih (atau bahkan tidak ada guru sama sekali) dan fasilitas yang memadai. Hasil sekaligus faktanya: anak kelas tiga SD di Jawa mampu membaca 26 kata per menit lebih cepat dibandingkan anak di Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Demikian pula, anak yang lebih kaya mampu membaca 18 kata lebih cepat dibandingkan anak-anak yang miskin (sumber: OECD, 2015). Kondisi yang tidak jauh berbeda, juga terjadi saat saya mengajar (menginspirasi, tepatnya) pada Kelas Inspirasi Lombok 4 di sebuah sekolah dasar di Sembalun, Kaki Gunung Rinjani. Saya mendapati sebagian besar anak kelas 3 di sana, masih belum bisa menghitung (tambah dan kurang) dengan benar. Hm, menjadi PR!

Ketimpangan pendapatan.
Jika dikaitkan, ketimpangan ini adalah bagian dari konsekuensi ketimpangan peluang yang terjadi sejak lahir. Perang pendapatan di era ekonomi saat ini adalah antara para pekerja terampil dan tidak terampil. Para pekerja terampil umumnya adalah mereka yang sejak awal menyelesaikan sekolah dan mengambil manfaat dari pendidikan yang berkualitas tinggi. Dan, masalahnya adalah: permintaan tenaga kerja terampil di Indonesia sangat tinggi – namun suplainya sangat terbatas. Meskipun semakin banyak perusahaan yang mensyaratkan pekerja lulusan minimal sekolah menengah atas, tidaklah bisa disamakan dengan keterampilan. Data dari World Bank menyebutkan: tidak kurang dari 1 persen anak muda usia 19-24 tahun telah mengikuti pelatihan TI dan bahasa. Dan kelangkaan ini menyembulkan masalah: upah pekerja terampil naik lebih pesat dibandingkan dengan pekerja tidak terampil. Upah pada sektor dengan produktivitas tinggi dan membutuhkan keterampilan lebih, seperti jasa keuangan, telekomunikasi, manufaktur – telah naik lebih cepat dibandingkan pada sektor dengan produktivitas rendah: pertanian dan sektor informal. Mereka yang kaya, yang kemungkinan besar lebih terdidik dan terampil, akan meraup keuntungan dari upah yang lebih tinggi.

Ketimpangan aset.
Rumah tangga memperoleh pendapatan tidak hanya dengan bekerja, tetapi bekal sumber daya aset keuangan dan fisik, yang bahkan diwariskan sejak lahir. Di Indonesia, 10 persen orang terkaya menguasai sekitar 77 persen kekayaan (aset) negeri, bahkan jika diciutkan, 1 persen orang terkaya memiliki separuh dari seluruh kekayaan. Aset keuangan dan fisik ini menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi hanya untuk sejumlah kecil rumah tangga kaya, kemudian dikelola agar tumbuh menjadi kekayaan yang lebih besar lagi di masa depan. Maka: semakin terpusatnya kekayaan di tangan segelintir orang berarti pendapatan aset keuangan dan fisik akan mendorong ketimpangan yang semakin lebar. Apalagi pengumpulan kekayaan berasal dari praktik-praktik korupsi – sungguh akan menyebabkan ketimpangan di masa depan yang lebih parah!

Guncangan.
Ada banyak jenis guncangan yang akan mengikis kemampuan rumah tangga: ekonomi, kesehatan, sosial-politik, dan bencana alam. Dan jelas, mereka yang paling rentan adalah orang-orang miskin dan berpotensi menghalangi peningkatan derajat ekonomi mereka. Bencana alam, misalnya kekeringan yang menggagalkan hasil panen petani. Atau, hiperinflasi harga pangan yang mengurangi manfaat pendapatan. Atau, PHK besar-besaran yang memutus sumber penghasilan. Termasuk, kecelakaan dan gangguan kesehatan yang memaksa menghentikan aktivitas bekerja dan keseharian. Sayangnya, dalam situasi sulit seperti ini, banyak orang Indonesia yang lebih bergantung pada teman dan saudara daripada mekanisme formal. Saat usaha mengembalikan tidak cukup, seseorang mungkin akan menjual aset produktif – seperti sehektar tanah warisan atau sebuah mesin jahit, hanya untuk membayar rumah sakit misalnya. Kasus yang lebih ekstrim terjadi misalnya tidak menyekolahkan anak atau memaksa mereka bekerja di usia yang sangat dini.
Jika menjadi bencana yang umum, guncangan akan menekan pendapatan semua orang di Indonesia tanpa kecuali. Tapi karena rumah tangga kaya memiliki daya tahan yang lebih, mereka tidak terlalu terusik – sebaliknya, rumah tangga yang miskin akan rentan terperosok kembali ke jurang kemiskinan. Selama 14 tahun, kebanyakan orang Indonesia mengalami fase naik-turunnya pendapatan yang cukup terjal. Namun, seperlima rumah tangga terkaya mampu bertahan pada kuintil teratas selama periode yang sama! Sementara, separuh dari 26,9 persen warga yang rentan miskin menjadi miskin di tahun berikutnya.


Jika kita kembali menengok pada siklus ketimpangan, kita akan melihat masalahnya secara lebih runtut. Aset, setiap rumah tangga (atau manusia yang lahir) memiliki kuantitas dan kualitas aset yang berbeda. Mereka yang kaya, akan lebih sehat dan menikmati akses pendidikan yang memadai dibandingkan mereka yang miskin. Lalu mereka hampir dipastikan menjadi pekerja terampil di sektor ekonomi yang produktivitasnya tinggi, mendapati penghasilan yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak terampil. Bahkan, tanpa harus bekerja pun mereka bisa berusaha mengelola aset keuangan dan fisik yang mereka miliki untuk meraup pendapatan yang lebih fantastis. Mereka yang kaya juga lebih mudah menabung untuk investasi di masa depan, dibandingkan yang miskin. Di masa depan, generasi berikutnya, akan memulai siklus yang sama kembali – bahkan mungkin lebih baik. Ketimpangan menjadi lebih kompleks: berlangsung antar generasi.

Solusinya? – bersambung dan nantikan tulisan berikutnya.




DUA RIBU ENAM (TUJUH) BELAS


Ditemani piring kecil dan garpu, saya menyantap pizza hari ini. Tidak begitu lahap. Memang saya tidak doyan makanan luar negeri yang satu ini. Dalam dua suapan, saya menaruh garpu, menatap layar komputer, dan menemukan fakta bahwa beberapa hari lagi, tahun akan segera tuntas. Tepatnya dituntaskan. Saya menggunakan kata pasif ‘dituntaskan’ untuk mengembalikan memori tiga ratusan hari lampau, hingga mengubahnya menjadi kata ‘menuntaskan’. Seperti siaran televisi yang membuat kilasan balik peristiwa yang terjadi sepanjang tahun ini, siaran radio juga tak kalah memamerkan lagu-lagu hits di tahun ini, facebook yang memunculkan video review sentuhan kita di media sosial ini, dan lainnya, saya pun mencoba mengingat-ingat apa yang saya tuntaskan di tahun ini. Dua ribu enam belas.

Saya masih ingat betul betapa hitungan detik menuju dua ribu enam belas dihabiskan bersama sebagian kawan-kawan Komunitas Jendela Jakarta dengan bakar-bakar ayam. Di rumah Hakim, Cibubur. Truth or dare menjadi ajang penghabisan pagi, hingga terlelap di pelataran rumah bersama-sama. Merasa seru seterusnya, kami terus menjalin tawa dan keceriaan sepanjang tahun ini. Di grup chatting, saat makan sore menjelang malam, saat ada yang ulang tahun, saat ada yang promosi kerjaan, saat ada yang menikah, saat ada yang galau, dan semuanya berlalu sedemikian berkesannya di tahun ini. Saya senang menemukan mereka di antara padatnya pergaulan ibukota, meski masih sering merasa hilang diri dalam beberapa kesempatan bersama mereka.

Sedari awal tahun, pemikiran saya juga terbagi untuk sebuah konsistensi pergerakan cinta tanah kelahiran “Bali Tolak Reklamasi”. Melanjutkan rekomendasi pasca riset megaproyek reklamasi Pulau Serangan tahun 2007-2008, film dokumenter “Karya Segara” tahun 2013, film sekuel semidokumenter “Pray, Voiced, & Persuade” dan “Pura-pura Hijau” tahun 2014-2015, film perjalanan “Bali Bergerak” di awal tahun 2016, dan serentetan tulisan berikut aksi penolakan atas rencana reklamasi Teluk Benoa – saya bersama Pande, Prabawa, dan Bajra membuat sebuah forum diskusi terbuka “Ngomong Gen”. Mengusung topik-topik pergerakan di Bali, Ngomong Gen cukup berhasil mengundang anak muda Bali di ibukota untuk menyuarakan opini dan pemikirannya atas apa yang terjadi di Bali. Tidak berhenti di forum diskusi, kami juga merambah ke dalam beberapa aksi turun ke jalan dan panggung pertunjukan. Pura Bekasi, Cibinong, Depok, dan kampus AKPINDO menjadi panggung band Padtriot (yang digawangi Pande, Deli, dan Adit) berkolaborasi meneriakkan perlawanan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa. Semua ini dikemas apik dalam lagu “Lawan” yang diselingi monolog dari seseorang yang menamakan dirinya Lelakut Bercaping. Dua ribu tujuh belas, mungkin akan lebih megah lagi.

Sekitar bulan Februari dan Maret, selain fluktuasi pekerjaan di kantor, saya berkesempatan tugas ke luar kota. Dua kali saja. Di Ternate, Maluku Utara dan Kupang, Nusa Tenggara Timur. Dalam sesi tugas yang cukup melelahkan, ada berjuntai perjalanan mengasikkan yang telah menunggu. Di Ternate, saya mengeksplorasi pulau dari Gunung Gamalama ini dari Batu Angus, birunya Pantai Sulamadaha, hijau dan mistisnya Danau Tolire. Menyeberang barang lima belas menit, saya sampai di Tidore. Bersentuhan dengan sisa-sisa sejarah digjayanya kerajaan di tanah rempah ini. Mengunjungi pulau Maitara yang tergambar di uang seribu rupiah, benteng Tahula, air panas di pesisir Akesahu, menghedon di Kora-Kora cafe milik Bams Conora, dan bermalam di rumah kawan lama: Bukhari Fauzul setelah disuguhi makan malam yang luar biasa dari Ibunda-nya. Sebagai bekal dari Pulau ini, saya disuguhkan Lapis khas Tidore: Safira, juga buku “Pemberontakan Nuku”. Terasa begitu spesial.

Di Nusa Tenggara Timur, saya tidak hanya berhenti di Kota Kupang. Setelah menikmati santap kuliner Ikan Kuah Asam Tenau bersama Bli Jati, seorang web developer penuh mimpi dan cerita inspirasi, dengan satu-satunya pesawat yang tersedia, saya terbang ke pulau paling selatan Indonesia: Rote. Menginap di Tirosa Homestay, dekat pesisir Nembrala, saya seperti asing dikelilingi bule-bule kesepian tapi penuh cerita dan tawa. Dalam sebuah senja menjingga, Mrs. Candhra dan suaminya Mr. Squick duduk menghampar di kursi kayu di atas pasir. Lalu datang gadis Belgia, Naura, yang terlihat kelelahan di penghujung hari itu. Kemudian Mr. Mathew dan kekasihnya Ms. Leticia yang terlihat malu berpelukan kala itu. Kami bercengkrama sedikit tentang darimana kami berasal, dan untuk apa kami datang kesini. Asal kami jelas berbeda, tapi ternyata tujuan kami sama: mencari kesunyian. Pergi, sebentar atau lama, dari keramaian hidup yang tak jelas akhirnya. Seperti kemudian saya pergi ke Bukit Mando’o dan menemukan kawan lokal, bernama Yanto Mesah. Dan senja harinya, saya diajak minum Sopi (arak khas Rote) di Bukit Pintu Pantai Bo’a. Malam tanpa lampu dari listrik menghantar kami pada rumahnya yang disambut hangat istinya, Sritna, dan anaknya, Maura. Rasanya seperti menemukan saudara dan kehidupan baru disini. Sebelum besoknya, saya harus kembali ke Kupang untuk bercuap-cuap menyampaikan materi sehubungan dengan pekerjaan. Huh.

Tapi, dua traveling ini membuat saya semakin cinta pada keindahan negeri ini. Keragaman alam, budaya, manusia, kuliner, dan lainnya memaksa mimpi saya untuk ‘naik level’ dari keliling dunia menjadi keliling Indonesia. Masih di tahun ini, saya mulai manjat Gunung Papandayan, merasuki kampung Baduy Dalam, menikmati keindahan api biru Ijen, eksotisnya terumbu karang Menjangan, padang savana Baluran, dan menjajal kota Bandung dan Lembang. Sebagian besar saya ketemu orang-orang baru. Di Papandayan, saya diajakin Mya, kawan di Komunitas Jendela Jakarta – bersama teman-teman alumni di kampusnya di Semarang dulu. Ke Baduy, saya diajakin Abel, kawan di Tootal Pramuka KIJP – bersama anak-anak KIJP dari pulau lainnya. Ke Baluran-Ijen-Menjangan, saya ikut open trip bersama lima kawan Tootal Pramuka KIJP – bergabung dengan para traveler lain dari Semarang, Solo, dan Surabaya, dan ternyata kita bisa asyik bersama. Maka, penjelajahan tahun ini tidak hanya memperkenalkan saya pada eksotika alam dan budaya, juga dengan siapa kita menikmati itu.

Dua ribu enam belas, adalah awal saya masuk dunia literasi anak negeri (yang lebih luas), setelah Komunitas Jendela Jakarta. Bulan April, saya mencoba peruntungan dengan mendaftar di Komunitas Inspirasi Jelajah Pulau (KIJP) Batch 5. Dan, diterima. Mendapat pengalaman pertama nan berharga di SDN 02 Panggang, di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, bersama puluhan relawan lainnya. Di sana, saya membagikan keseruan belajar matematika dengan bermain jarimatika dan kelas dalam angka. Relawannya juga tak kalah kocak, dan karena suatu insiden lucu, akhirnya tim dinamakan Tootal Pramuka. Dan saya mulai gila, karena mereka. Salah satunya, gila ikutan Kelas Inspirasi. Benar, saya ketagihan. Beberapa bulan setelahnya, tepatnya di Bulan Agustus, saya lolos di Kelas Inspirasi Bali 3 di SDN 1 Tanglad, Nusa Penida. Disini saya kembali menemukan orang-orang yang luar biasa, kompak, dan koplak. Dua minggu setelahnya, masih di bulan yang sama, saya lolos di Kelas Inspirasi Pandeglang. Mendapat tugas di SDN Juhut 3, kaki gunung Karang, saya bertemu anak-anak sedikit pemalu dengan orang baru dan sekolah yang begitu ramah dengan tamu. Perihal ini yang juga kemudian membuat kami kembali, Back to School di awal Januari Dua Ribu Tujuh Belas. Di Bulan Nopember, saya kembali mengikuti Kelas Inspirasi Tegal 2, berlabel poci, di SDN Semedo. Masih sama, bertemu orang-orang yang penuh dedikasi, dan anak-anak yang penuh mimpi. Anggap saja, saya dan relawan lain datang untuk menyemangati dan memelihara mimpi mereka. Saya datang ke sana berikut teriakan “Inyong.. koen, luar biasa!”. Mudah-mudahan, ketika nanti saya kembali ke sana, mereka masih ingat saya karena jargon itu. Di dua ribu tujuh belas, saya masih akan berjuang. Karena menjadi pendidik, adalah tugas orang-orang yang pernah terdidik.

Sabtu-minggu di tahun ini benar-benar tak ternilai, begitu berharga. Juga sangat berkesan. Masih sama dengan tahun sebelumnya, saya banyak menghabiskan waktu di Komunitas Jendela Jakarta. Sebuah komunitas yang membangunkan kepedulian saya yang cukup lama tertidur. Membagi ilmu bersama adik-adik di Manggarai, Sungai Bambu, dan Serpong. Juga belajar membaca, tepatnya mengenal huruf, bersama si kecil Indra di Manggarai. Juga kegiatan seru lain, seperti temu relawan baru di Bintaro, buka bersama dan bazzar di bulan Ramadhan, One Day Trip alias jalan-jalan edukasi bersama beberapa adik, mobile library, bioskop Jendela Jakarta, hingga acara sebesar Festival Bocah Cilik – perayaan empat tahun hari jadi Komunitas Jendela Jakarta. Sebuah acara yang membangkitkan kembali permainan tradisional dan keseruan anak-anak Indonesia. Merasa senang menjadi bagian dari keseruan komunitas ini, dan dua ribu tujuh belas: mudah-mudahan masih sama.

Rasa-rasanya, masih banyak sekali cerita di dua ribu enam belas. Belum lagi soal pekerjaan di kantor, penuh drama, lengkap dengan komedi dan tragedi-nya. Ruangan kerja yang dipenuhi pekerja yang santai tapi asyik, tapi pekerjaan bisa beres semua. Beberapa tragedi juga terjadi: namun tak bisa terangkai dalam cerita ini. Sebagian berhasil saya tuntaskan, sebagian lagi masih menjadi pekerjaan di tahun-tahun depan. Tapi terlepas dari ini semua, saya cukup sering melarikan diri dari kebosanan pekerjaan di kantor. Musik indie, kedai kopi, novel klasik, radio, dan film menjadi obat penawarnya. Lagu-lagu dari Dialog Dini Hari, Nosstress, Banda Neira, dan beberapa band indie lain seperti menyentuh pikiran dan hati tepat pada masalahnya masing-masing. Kopi lokal Aceh Gayo, Jawa, Kintamani Bali, Flores Bajawa, Toraja, dan Papua – juga menjadi teman hangat di kedai bersama buku-buku novel klasik karya Pramoedya Ananta Toer juga Eka Kurniawan, saat hidup dan kehidupan mulai memahit. Dan kopi menjadi penawarnya. Radio seperti Gen FM dan Prambors juga selalu menemani perjalanan pulang-pergi ke kantor, untuk melupakan bising dan polusi jalanan yang membabibuta di ibukota. Dan, nonton film, terutama di bioskop non-komersil, seperti di Kineforum – untuk menemukan inspirasi baru tentang hidup dan problematika yang melekat diantaranya. Sepertinya di tahun depan, saya akan meneruskan kegilaan ‘pelarian’ ini.

Terima kasih dua ribu enam belas. Atas sahabat, perjuangan, literasi, pertualangan, kopi, musik, film, seni, bacaan, pekerjaan.
Juga cinta.
Dan semuanya.
Dua ribu enam belas, buat saya adalah tahun penuh kegilaan mengejar mimpi yang tak pernah habis ini. Meskipun, masih meninggalkan segudang mimpi lainnya untuk dikejar lagi di tahun berikutnya: dua ribu tujuh belas. Maka, ijinkan saya menutup tahun ini dengan sebuah catatan di buku harian kerja saya, yang saya tulis tanggal 22 Desember 2016:

“Tahun ini begitu liar. Pikiran, kaki, suara. Tapi tidak dengan hati, nurani, dan idealisme. Saat otak acapkali ditagih oleh mimpi, suara-suara lalu berserak dan tak terasa kaki telah melangkah sejauh ini. Sedang hati, nurani, dan idealisme masih konsisten: untuk-Mu dan mu”.


AKU KEMANA, KEMANA AKU?



“Tujuan kamu kerja di sini apa?”, sebuah pertanyaan tak terduga yang dilontarkan oleh atasanku. Pada sebuah percakapan biasa. Namun terkaget-kaget dengan pertanyaan demikian. Seperti mendorong tubuh mundur dan memojokkannya di sudut ruang perenungan. Aku mengambil air, meneguk perlahan, dan tak berhasil jua menemukan jawaban. Ah!

Terlahir dari keluarga sederhana di pelosok desa perbatasan antara Kabupaten Badung dan Tabanan, Bali – aku sama seperti anak-anak Bali lainnya. Masa kecil dipenuhi dengan permainan yang tak seegois sekarang. Aku masih ingat betul bagaimana dedaunan belimbing berikut buahnya di pekarangan, batu bata yang dihancurkan pada batu hitam, ditetesi air sumur, dan dialasi daun bunga kertas – seperti “lawar” aku jual ke teman-teman sepermainan. Dibayarnya pun pakai daun bunga kertas! Kami menyebutnya permainan “dagang-dagangan”. Bosan akan permainan yang lebih menggali kreativitas perempuan itu, kami berpaling pada permainan “dul-dulan” atau petak umpet. Juga main “cingklak”, karet, “dengkleng-dengklengan” dan serentetan permainan lain – sesuai pada musim dan tingkat kejenuhan. Tapi lucunya, waktu itu kami tidak memahami betul makna kejenuhan. Yang ada hanya keseruan. Kebahagiaan sesungguhnya dikala masa kanak-kanak.

Sekolah. Menuntut ilmu. Sepertinya menjadi keharusan, meski bisa dikatakan aku hanya masuk sekolah karena orang tua yang ‘menyuruhnya’. Juga karena keseragaman, karena teman-teman seumuran pada masuk sekolah. Asumsinya, aku sekolah karena memang sudah waktunya masuk sekolah. Aku tak tahu betul, kalau sekolah nantinya akan mengajarkan aku sejauh ini. Membuat aku seperti ini. Menggerakkan jemari di atas keyboard komputer, bergolak dengan pikiran, dan menghasilkan tulisan galau begini. Aku tidak tahu akan bisa berada di titik ini. Aku menyebut kondisi sekarang sebagai “point”. Hanya sebuah titik.

Aku tidak punya roadmap rapi tentang mimpi dan cita-cita aku. Menjadi anak desa yang tak dibekali ilmu yang cukup tentang cita-cita, ketika guru di kelas bertanya cita-cita aku, aku menjawab: dokter! Jawaban itu spontan. Karena kosakata cita-cita waktu itu sangat terbatas: dokter, guru, polisi, tentara. Tanpa buruh, petani. Itu sudah. Tidak banyak. Tapi sekarang? Aku tidak benar mencapai cita-cita atas jawaban spontan itu. Meskipun upaya mencapai itu digembleng mati-matian saat masa penentuan di tingkat SMA. Aku tidak kuliah di kedokteran.

Apakah aku mengalami kegagalan?

Sempat terpikir di benakku, menghapus kata kegagalan dan keberhasilan. Let it flow! Menikmati proses! Output, hasil akhir, atau apalah itu hanya bonus dari sebuah proses. Berada di ranah proses berarti harus siap dengan hidup penuh keterambingan. Segala sesuatu yang terjadi adalah pergolakan antara usaha dan penyerahan diri. Antara doa dan karma. Antara hidup dan mimpi. Antara kenyataan dan harapan. Alhasil, jadilah aku seperti saat ini. Kaya akan mimpi, namun miskin dalam hidup. Aku tidak menyoal materi, namun lebih kepada keseimbangan. Sama seperti ketika kecil dulu, aku mempunyai mimpi yang sedemikian besar dan ambisiusnya. Ketika gelayutan di akar pohon beringin, ingin menjadi tarzan yang menyelamatkan lingkungan. Ketika loncat di sungai ingin menjadi ultraman, atau power rangers, atau superhero lainnya. Ketika melihat pesawat melintasi ribuan kaki di atap rumah, ingin menjadi pilot yang menerbangkan pesawat. Dan seterusnya. Tapi bedanya, waktu itu aku tidak pernah mempermasalahkan mimpi yang seabrek.

Sekarang, ketika menjadi manusia yang bisa dikatakan sudah dewasa. Mimpi seabrek sepertinya justru menjadi masalah. Karena dihadapkan pada realitas keterbatasan diri. Aku harus meninggalkan beberapa mimpi untuk menjadikan sebagian diantaranya kenyataan. Aku harus memaksakan sedikit hidup agar sebagian darinya bisa tidak menjadi kesia-kesiaan. Mencoba fokus, tapi dimusuhi oleh naluri menjadi generalis. Mencoba menyederhanakan, namun dihalang-halangi oleh rasa ingin tahu yang lain. Ah, masih membingungkan!

Rasa-rasanya, aku ingin kembali ke masa dua dasawarsa lalu. Atau hidup sekarang dengan idealisme kekanak-kanakan. Tidak mempermasalahkan mimpi yang seabrek. Pagi bertengkar dengan teman, sorenya sudah akur kembali. Benar-benar berpasrah pada waktu. Kemana aku akan hanyut nanti. Kemana aku akan tersangkut nanti. Melampui atau singgah pada sebuah titik atau “point” yang tak pernah aku bayangkan atau harapkan sebelumnya. Sampai aku berjumpa pada jawaban yang bisa aku pahami atas pertanyaan ini : Aku Kemana ? Kemana Aku?

Hingga saat ini aku masih berpangku pada hipotesa : “Point Break”. Aku mencari titik peristirahatan. Sama seperti mitos Ozaki Eight yang dipecahkan oleh para petualang ekstrim di film yang sama “Point Break” (2015). Hingga pada suatu hari ada bertanya kepada aku pertanyaan “tujuan kamu kerja di sini apa?”. Jawaban aku masih sama:

“Untuk beristirahat”.


CURIK-CURIK TIM SATU TANGLAD - PART 3



“Kring kring!” Alarm sudah berbunyi sejak pukul lima pagi. Satu persatu bangun, bergilir menimba sumur, mandi, dan sarapan pagi. Lagi-lagi saya yang mendapati giliran paling akhir. Dan kami berangkat sekitar pukul setengah tujuh pagi, setelah menyempatkan berfoto bersama Pak Mangku sekeluarga sebagai kenang-kenangan pernah menimba sumur di rumah beliau. Embun pagi menyambut iring-iringan pagi itu, juga anak-anak berseragam merah-putih dengan tengtengan sapu yang tersenyum menyapa kami. Sebagian diantaranya berjalan mengikuti arah motor kami: SDN 1 Tanglad. Iya, mereka adalah sebagian anak-anak yang akan mengikuti kelas inspirasi nantinya.

 Sampai di SDN 1 Tanglad, kami disambut aktivitas yang mengembalikan ingatan saya pada belasan tahun silam: menyapu halaman sekolah, merapikan meja dan kursi di kelas, menghaturkan sesajen canang di sekolah. Momen-momen yang mulai langka ditemui di sekolah perkotaan kini. Setelah semuanya dimonopoli oleh petugas kebersihan sekolah. Kami juga tak kalah heboh, mempersiapkan diri dengan memasang spanduk, menghaturkan sesajen canang di Padmasana (pura) sekolah. Memohon ijin agar diberikan kelancaran dalam kegiatan di sekolah ini.

Teng! Jam setengah delapan pagi, upacara bendera dimulai. Siswa-siswa yang sudah selesai berberes nampak berhamburan lalu membentuk barisan rapi menurut jenjang kelas-nya. Kelas satu sampai kelas empat berbaris menghadap tiang bendera, sebagai peserta upacara. Kelas lima dan enam sebagai petugas upacara, juga sebagai pasukan paduan suara berbaris di sebelah kiri tiang bendera. Bapak dan ibu guru berbaris dua sap di kanan tiang bendera, bersebelahan dengan kami: relawan kelas inspirasi SDN 1 Tanglad. Sekadar informasi, jumlah siswa SDN 1 Tanglad adalah 60 siswa dengan 7 orang guru tetap, dan 4 pegawai honorer. Jumlah siswa ini tergolong sedikit, karena arus urbanisasi yang masih tak terbendung dari wilayah ini. Telur emas ternyata masih kalah berkilau dibandingkan dengan daerah-daerah Kuta, Denpasar, dan Nusa Dua yang katanya juga emas: segitiga emas Bali. Mungkin, yang paling mengkhawatirkan di sekolah ini adalah tidak berfungsinya toilet, mengingat terbatasnya air yang menjadi polemik di wilayah ini. Alhasil saya pun menahan buang air, sampai selesai hari inspirasi dan kembali ke penginapan.

Jalannya upacara bendera sendiri bisa dikatakan suatu momen langka bagi beberapa inspirator, termasuk saya. Kendati di beberapa hari peringatan acapkali diadakan upacara di kantor. Saya tak pernah semerinding kala itu. Saat mendengarkan seruan dari pengibar bendera: “Bendera Siap!” lalu menyanyikan lagu Indonesia Raya, lalu mengheningkan cipta, dan mendengar-mengikuti pembacaan Pancasila oleh Bapak Kepala Sekolah. Merinding! Khidmatnya upacara benar-benar terasa dan mengangkat relung memori belasan tahun silam kala saya berdiri tegak membacakan teks UUD 1945 berseragam merah-putih berdasi agak kedodoran. Upacara berjalan dengan lancar. Bendera tepat mencapai ujung tertingginya sesaat lagu Indonesia Raya selesai, dan para siswa begitu tenangnya mengikuti seremonial ini. Ahh, saya jadi makin cinta negeri ini.

Upacara bendera selesai, dilanjutkan dengan sesi opening yang dipandu oleh Ian. Opening kami kemas secara sederhana, dengan mengembalikannya pada tujuan awal untuk mencairkan suasana dan mendekatkan para siswa dengan kakak-kakak relawan, terutama para inspirator.
“Adik-adik, gimana kabarnya”, tanya Ian.
“Baik”, sahut mereka tak begitu kompak.

Lalu Ian mencoba mengkompakkan jawaban mereka, dengan kalimat “Luar Biasa!”. Mereka berhasil mengikuti seruan Ian, juga para relawan semua. Dengan keras. Juga kompak. Lalu dilanjutkan dengan tepuk semangat, superman woosh!, dan jingle “Jika Kau Suka KI”.
Jika kau suka KI, tepuk tangan. Prok prok! Jika kau suka KI, tepuk tangan. Prok prok! Jika kau suka KI, mari kita lakukan, jika kau suka KI, tepuk tangan! Prok prok!
Jika kau suka KI, hentak bumi. Dug dug! Jika kau suka KI, hentak bumi. Dug dug! Jika kau suka KI, mari kita lakukan, jika kau suka KI, hentak bumi! Dug dug!
Jika kau suka KI, lompat hore. Hore! Jika kau suka KI, lompat hore. Hore! Jika kau suka KI, mari kita lakukan, jika kau suka KI, lompat hore!
“Horeeeeeeeeeee!” dengan lompatan yang cukup tinggi. Dan kompak. Opening pun berakhir dengan semangat mereka memasuki pos-pos kelas inspirasi. Ada yang berlarian menuju pos, saking semangatnya. Ada yang bermain kereta-keretaan setelah berhasil dijinakkan oleh Kak Arni dan Wira. Suasananya random. Sumringah. Namun sangat mengesankan.

Tibalah waktunya giliran saya. Menginspirasi. Juga harus terinspirasi.

Saya menggelar sebuah spanduk persegi ukuran tiga kali tiga meter di bawah pohon ketapang di halaman sekolah, bergambarkan permainan ular tangga. Saya bisa menyebutnya sebagai ular tangga raksasa. Lengkap dengan tiga boneka dadu, dan yang nantinya menjadi pion adalah siswa yang ikut bermain. Saya sedikit modifikasi ular tangga dengan tambahan ikon bintang, jika siswa berhasil menaiki tangga dengan menjawab tantangan matematika terlebih dahulu. Juga ada tulisan “poles lawan” dan “dipoles” pada beberapa blok untuk menambah keseruan permainan ini, selain ada mulut ular yang memangsa pion hingga jatuh di ujung ekornya. Melalui permainan ini, saya mencoba mendekatkan ilmu matematika, terkhusus peluang yang mengisahkan soal keberuntungan melalui permainan lemparan dadu. Intinya bahwa dalam hal apapun, matematika sangat diperlukan. Termasuk mengejar mimpi-mimpi mereka nantinya.

Sesi pertama saya kedatangan Grup C, gabungan kelas 5 dan 6. Pembukaan sesi saya awali dengan permainan sulap angka, dengan menebak tanggal lahir dari beberapa siswa. Saya senang, ada yang terkesima dan penasaran dengan cara saya menebak. Karenanya, saya mencoba membocorkan trik kepada satu siswa yang bernama Bayu. Dan keren. Transfer ilmu kanuragan berhasil. Bayu berhasil menebak tanggal lahir Komang, setelah sebelumnya komat-kamit menghitung dalam hati. Suasana mulai mencair. Lalu saya masuk ke permainan ular tangga dengan membagi mereka ke dalam empat kelompok. Ada kelompok yang mendapati tantangan matematika, dan berhasil dijawab dengan benar. Ada yang cemong karena dipoles bedak oleh lawannya, juga ada beruntung bisa memoles bedak pada lawannya. Lagi-lagi saya senang, mereka tampak menikmati permainan ini. Dan di sisa waktu terakhir, saya mencoba memasukkan matematika ke dalam mimpi-mimpi mereka. Terlepas dari apapun cita-cita mereka: dokter, guru, polisi, supir, petani – semuanya membutuhkan ilmu matematika. Dan matematika bisa dipelajari dengan cara apapun, termasuk lemparan dadu dan uang koin. Sesederhana itu.  

Sesi kedua dan ketiga saya kedapatan kelas kecil. Karena spanduk ular tangga mulai kotor oleh debu sisa pijakan sepatu, saya memindahkan pos ke ruangan. Masuk ke kelas kecil cukup memberikan tantangan tersendiri. Di kelas tiga-empat (grup B), saya sempat dijahili oleh seorang siswa yang secara sengaja menyalahkan tebak-tebakan tanggal lahir yang saya peragakan. Juga sulap jumlah batang korek, yang lagi-lagi gagal berkat salah penjumlahan yang dilakukan oleh salah seorang siswi. Tapi, mereka kembali bersahabat setelah ular tangga dimainkan. Lain lagi ceritanya dengan kelas satu-dua (grup A). Dimana, penjumlahan dadu masih dilakukan sangat manual: dihitung per biji lingkaran dihiasi wajah serius mereka dalam menghitung dengan media jari-jari tangan. Tapi semuanya terselesaikan dengan benar. Permainan pantomim angka pun, mereka jawab dengan cepat. Saya-pun sangat terkesima dengan Shinta, siswi kelas 2 SD yang begitu cepat menjawab soal hitung-hitungan dari pantomim angka yang saya mainkan. Luar biasa reinkarnasi dari kekasih Rama ini.

Saat jam istirahat, relawan beristirahat sejenak di warung samping sekolah. Menyantap penganan khas Bali: tipat cantok. Dengan kerupuk. Sembari berbagi keceriaan di kelas. Di mana, Dita (dosen kimia) memainkan percobaan atau praktikum yang menarik minat siswa untuk menjadi ilmuan. Ian-Dewi yang bermain tentang aturan-aturan hukum lengkap dengan setelan jubah hitamnya. Dan Ina (perawat) yang mengajarkan pertolongan pertama pada kecelakaan, cara mencuci tangan yang benar kepada siswa. Arni dan Wira juga tak kalah hebohnya memobilisasi siswa dengan rangkaian kereta-keretaan. Para dokumentator: Bang Jerry, Bule, dan Bli Komang juga menceritakan momen-momen sekali seumur hidup yang berhasil mereka jepret. Bisa dikatakan kelompok ini tidak banyak persiapan, namun cukup mumpuni dalam pelaksanaan. Meskipun sebagian dari kami baru sekali dua kali ikutan Kelas Inspirasi.

Beberapa menit sebelum closing, para siswa kemudian dibagikan dua lembar postcard cita-cita. Untuk mereka tulis. Satu untuk dibawa pulang dan diserahkan kepada orang tua atau keluarga di rumah, satunya dimasukkan ke dalam amplop cokelat yang akan diserahkan pada guru. Saya bertugas menemani siswa kelas satu dan dua, yang notabene masih belajar menulis. Tapi saya takjub, hampir 99 persen sudah lancar dalam menulis, walau masih ada ejaan yang salah. Luar biasa. Beragam cita-cita dan impian tergores di postcard itu. Ada yang menulis dokter, pemain sepak bola, petani, astronot, dan banyak lagi. Dan, yang paling mengharukan buat saya adalah impian adik Ayu (kelas 2 SD) yang ingin menjadi “Guru Matematika”. Profesi yang sangat dekat dengan inspirasi yang saya bagikan.

Closing dimulai! Saya yang bertugas memandu. Para siswa kembali berkumpul di lapangan. Lengkap dengan selembar postcard cita-cita di tangan, tas di punggung, bintang di dada, dan topi merah-putih di kepala. Menutup kelas inspirasi ini, seluruh siswa berikut relawan dan guru-guru melaksanakan pawai kecil-kecilan, berbaris mengular dengan spanduk Kelas Inspirasi membentang dan tangan-tangan mungil mengacungkan postcard cita-cita. Menyanyikan lagu “Curik-Curik” yang menjadi ikon keceriaan Kelas Inspirasi SD Negeri 1 Tanglad. Berbaris mengular menuju jalan di depan sekolah. Mengitari patung di bundaran Desa Tanglad. Dengan wajah-wajah yang dipenuhi dengan inspirasi dan keceriaan. Momen yang memuncaki sudut-sudut keluarbiasaan dari acara ini.

“Curik-curik semental alang-alang boko-boko, tiang meli pohe, aji satak aji satus keteng, mara bakat anak bagus peceng, enjok-enjok!”

Selesai acara, tidak lupa kami mohon undur diri dari pihak sekolah yang telah menyambut hangat kehadiran kami. Tidak banyak yang bisa ditinggalkan, kecuali pedalaman semangat untuk meraih mimpi yang coba kami bangun dalam kelas inspirasi. Juga beberapa lembaran kalender tahun 2017 yang berisikan foto-foto relawan berikut quote, sebagai ucapan terima kasih dan kenang-kenangan dari kelompok kami. Kami mohon undur diri, setelah waktu semakin berdesakan dengan keberangkatan kembali ke Sanur. Jam setengah satu siang, kami bergegas menuju penginapan.

Pak Mangku dan keluarga sudah siap dengan nasi bungkus, bekal kami menuju pelabuhan nanti. Kami merapikan kembali barang-barang yang tentunya lebih ringan dari sebelum keberangkatan. Jam satu siang, kami berpamitan dengan keluarga Pak Mangku yang sudah menerima kehebohan kelompok kami. Tak ketinggalan si Arni, yang meminta nomor Mbok Kadek, anak kedua Pak Mangku, untuk memulai bisnis kain Rang-Rang di Denpasar nanti. Jalanan malam dua hari yang lalu kembali kami lewati. Dengan santai. Karena turunan. Karena siang. Hingga kami-pun sampai kembali di Pelabuhan Toya Pakeh. Untuk mengembalikan sepeda motor, dan menunggu keberangkatan kapal Maruti menuju Sanur. Sembari menunggu kapal, kami menyantap bungkusan nasi Pak Mangku dan bermain 61. Aturan main masih sama. Yang kalah dipoles bedak. Biar cemong.

Kapal pun merapat dan kami kembali melalui perjalanan laut menuju Sanur. Lelah, tenaga yang terkuras memaksa kami beristirahat memejamkan mata di kapal walau gelombang laut sedang tak begitu bersahabat. Sekitar pukul empat sore, kami sampai di Pantai Sanur dengan celana sedikit basah oleh air laut. Istirahat sejenak, lalu mencari-cari transportasi untuk kembali ke LPMP. Untuk acara refleksi, rangkaian terakhir acara Kelas Inspirasi Bali 3. Acara sedikit diundur dari semula jam 5 sore menjadi jam 7 malam, karena aula LPMP masih digunakan oleh instansi pemerintah. Tim Satu Tanglad, hanya menyisakan empat orang ikutan kegiatan ini: Arni, Dewi, Bang Jerry, dan saya. Bule dan Dita mohon pamit karena harus kembali ke Lombok dengan motor bututnya. Wira, fasilitator muda ini, juga meninggalkan LPMP karena ada dinas malam. Ian, yang sudah nyaman beristirahat di hotel seputaran Jimbaran yang cukup jauh dari Renon. Lalu, Ina dan Bli Komang yang semula ingin ikut refleksi mendadak ingin pulang lebih dahulu, karena ada upacara adat di daerahnya. Jadilah kami berempat dengan wajah sedikit kelelahan, duduk di jajaran dua bangku terdepan menyaksikan jalannya acara.

Tak banyak yang mengikuti acara ini. Sebagian memilih untuk beristirahat, sebagian mungkin memilih melanjutkan perjalanan wisata di sisa waktu. Acara dilangsungkan begitu santai. Setiap kelompok diminta menyampaikan laporan dan keluh-kesahnya selama di SD-nya masing-masing. Ada yang menyampaikan kabar bahagia karena mendapat pengalaman berharga yang luar biasa. Ada yang sedikit kecewa dengan jalannya acara. Tapi kelompok kami, memberikan respon yang positif. Diwakili Dewi, kami menyampaikan kondisi sekolah yang butuh perhatian terutama di fasilitas MCK. Juga kekompakan tim Satu Tanglad, yang luar biasa kebersamaan-nya. Semua berjalan lancar, tanpa muluk-muluk. Berwisata oke dan puas. Hari inspirasi juga oke dan lancar. Juga berkat dukungan spiritual, yang kami percayai turut melancarkan kegiatan kami. Hingga jam delapan lewat, acara selesai. Tangan berkocok bersalaman, ucapan terima kasih dan permohonan maaf bertebaran, dan salam semoga berjumpa kembali bersahutan.

Tapi ini bukan akhir dari perjalanan.

Lagu “Curik-curik” akan tetap berkumandang, mengiringi perjalanan eksotis esok, lusa, dan tahun-tahun di depan. Sejenak membuka kembali membuka relung tiga hari, dua malam di Tanglad, Nusa Penida. Sebuah kisah yang semestinya tak usang oleh terpaan waktu. Karena menginspirasi dan terinspirasi adalah dua kondisi yang bisa secara paralel terjadi, sepanjang hidup. Benar kata John Dewey, “Education is not preparation for life. Education is life itself.

Terima kasih Kelas Inspirasi Bali 3.
Terima kasih tim SD Negeri 1 Tanglad.
Cis kacang buncis!


CURIK-CURIK TIM SATU TANGLAD - PART 2



Minggu, 7 Agustus 2016. Kami bangun subuh. Jam 5 pagi. Saling membangunkan. Untuk mengejar sapaan surya pagi yang masih ranum di Nusa Penida, tepatnya di pesisir desa Suwana. Lampu motor masih kami nyalakan, karena langit begitu gelap. Berkendara beriringan menuju lokasi yang entah dimana, karena yang tahu hanya Wira dan Arni. Saya dan bang Jerry sudah bertukar motor dengan Bule-Dita, tapi kami tetap menjadi juru kunci iring-iringan. Kesialan terjadi, setelah handphone Ian jatuh di jalan. Kami berhenti membantu mencari, sedang yang lain asyik berkendara tak tahu kejadian ini. Jadilah rombongan ini terpecah dua. Handphone berhasil didapatkan. Kami melanjutkan perjalanan. Walau buta arah. Berbekal insting. Hingga sampai di sebuah pertigaan dengan pohon besar di tengahnya, tanpa penunjuk jalan. Celaka. Bingung mau kemana.

Tapi kami beruntung. Rombongan di depan itu salah jalan. Mereka belok kiri. Harusnya kanan. Dan jadilah kami berpapasan di pertigaan itu. Kami beriringan lagi, tapi hanya empat motor. Satu-nya ternyata ketinggalan lagi. Ina dan Bli Komang mungkin asyiknya berkendara, layaknya orang pacaran pada umumnya, hingga tertinggal karena sebelumnya berada di paling depan. Tapi mereka sadar mereka tersesat. Telepon dari Arni dijawab, dan akhirnya kami kembali dalam formasi lengkap menuju Pantai Suwana. Di perjalanan, langit mulai berwarna. Indahnya pagi.

Debur ombak menyambut kedatangan kami. Langit mulai merah menguning bercampur biru di pinggirannya. Semua perkakas dokumentasi pun keluar: kamera DSLR 6D Arni, Xiomi Yi Bule, DSLR Bang Jerry, dan Gopro Bli Komang, sedang yang lain dengan kamera handphone. Semua menangkap momen yang sama: sunrise. Dengan sudut pandang dan pengambilan gambar masing-masing. Namun sayang, matahari tak utuh menaiki garis laut. Karena awan pagi berkhianat pada asa kami. Sinarnya tak utuh memancar kesana-sini, namun tetap indah jika dipandang. Jadilah kami berfoto ceria dengan senyum cis kacang buncis, cang kacang panjang, sambil berlompat ria di atas pasir. Satu pelajaran yang bisa saya ambil bahwa keindahan bukan hanya soal dimana, tapi bersama siapa. Hingga terik mulai terasa, kami bergegas kembali ke penginapan untuk mandi dan mengisi perut dengan sentuhan nasi pagi.

Agenda KIB3 di hari itu adalah Pengabdian Masyarakat (Pengabmas) yang terpusat di desa Sekartaji, tetangga Desa Tanglad juga. Bentuk pengabdian berupa pengobatan dan pemeriksaan kesehatan kepada masyarakat secara cuma-cuma, oleh kakak-kakak relawan yang bergelut di bidang kesehatan (dokter, perawat, bidan, dsb). Arni dan Ina yang mewakili kelompok kami. Ditemani ojek mereka masing-masing: Wira dan Bli Komang. Sisanya jahil. Tepatnya menjahili mereka. Kami memilih berangkat belakangan, dengan alasan antrian kamar mandi yang hanya sebiji dan setoran pagi yang tak bisa ditunda lagi. Tapi alasan lainnya adalah kami ingin jalan-jalan, menikmati eksotisnya bumi Nusa Penida. Mereka akan kami jemput kemudian. Alhasil, jadilah kami singgah di Bukit Teletubies yang masih satu jalan menuju Sekartaji. Celakanya, niat agak busuk ini tercium oleh rekan-rekan kelompok lain yang kebetulan berpapasan dengan kami di jalan. Kami cuek saja, dan singgah sebentar. Mengambil foto agar gundukan-gundukan bukit yang indah mampu mendukung wajah-wajah kami. Lalu kami bergegas menyusul kemudian, melewati jalanan berbukit lengkap dengan ukiran-ukiran khas Nusa Penida.

Kami sampai di Sekartaji, sekitar tiga puluh menit sebelum acara Pengabmas berakhir. Sedikit men-support rekan kami yang bertugas, selebihnya beristirahat setelah melalui perjalanan panjang yang melelahkan. Di sana terlihat ada beberapa anak-anak yang dibekali ilmu menggosok gigi yang benar, ada warga yang melakukan pemeriksaan kesehatan: seperti tensi dan gula darah. Pengabmas selesai. Sekitar pukul dua belas lewat, kami kembali ke penginapan. Untuk makan siang. Perjalanan kembali melewati Bukit Teletubies, dan Arni memaksa kami kembali menuruni gundukan bukit untuk berfoto dengan pasukan lengkap. Dengan spanduk bertuliskan “Aku Menginspirasi, Aku Terinspirasi”. Masih dengan senyum cis kacang buncis, cang kacang panjang. Tapi tidak lompat lagi.

Sehabis melalap makan siang, kami melanjutkan perjalanan wisata menuju Pantai Atuh. Tepatnya menuju rumah pohon, yang penampakannya cukup mengesankan jika dilihat dari share foto di instagram. Perjalanan dari Batukandik kira-kira membutuhkan waktu satu jam, namun kata Bapak tua di Pantai Atuh perjalanan sebaliknya hanya membutuhkan waktu tigapuluh menit. Kami tertawa bingung, mungkin ada jalan pintas sepertinya. Sampai di lokasi, lelah perjalanan terbayar habis berkat eksotisnya panorama laut dengan tebing dan pulau bongkahan tebing yang menjulang tinggi. Butuh keberanian untuk menuruni tebing yang curam. Karenanya, Ian yang katanya phobia ketinggian merelakan dirinya menunggu di atas, tidak ikut turun ke rumah pohon. Yang luar biasa adalah Bang Jerry. Beban tubuh mampu dibungkam oleh semangat menapaki keindahan yang tak jauh dari ufuk mata. Momen-momen indah di tebing bukit Pantai Atuh tak ada habis-habisnya kami abadikan. Hingga sore menjelang, kami bergegas menanjaki bukit dan beristirahat di atas untuk sekadar meneguk minuman yang dijual oleh papak yang mengatakan jarak Atuh-Tanglad hanya tigapuluh menit.

Kami kembali ke penginapan. Di perjalanan kami singgah sebentar di SD Negeri 1 Tanglad. Lokasi dimana kami akan menjajal kelas inspirasi yang telah kami persiapkan. SD-nya cukup gelap, hanya diterangi lampu depan gerbang sekolah. Gerbang itupun digembok. Kami seperti orang asing yang salah masuk penginapan. Tapi beruntung bapak penjaga sekolah tinggal di sebelah sekolah ini. Alhasil, jadilah kami masuk melalui celah sempit di samping sekolah, tepat di sebelah warung yang juga menjadi kantin sekolah. Tak lama kami disitu. Hanya menentukan pos-pos inspirasi. Siapa ada dimana, dimana menaruh spanduk, dan jam berapa harus sudah berada di lokasi ini. Sekembalinya di penginapan, kami briefing kecil-kecilan membahas rencana jalannya kegiatan, mulai dari persiapan, opening, kelas inspirasi, dan closing. Properti yang sudah disiapkan dibagi-bagi, seperti postcard cita-cita, bintang kelas sebagai reward, stiker nametag siswa, dan lainnya. Pos-pos pun ditentukan. Dimana, akan ada tiga grup siswa yaitu grup A (gabungan kelas 1 dan kelas 2), grup B (gabungan kelas 3 dan 4), dan grup C (gabungan kelas 5 dan 6) memasuki empat pos yang berbeda. Pos pertama adalah pos “Justicia” milik Ian dan Dewi (para konsultan hukum), pos kedua “Alkana” milik Dita (dosen kimia), pos ketiga “Desimal” milik saya (statistisi), dan pos keempat “Stetoskop” milik Ina (perawat). Jam sepuluh malam, briefing selesai dan saya masih menunggu giliran mandi. Sebelum akhirnya mimpi segera menghampiri.